Menu
Tips & Trik

Pupus Rasa Bersalah, Tips Bagi Ibu Bekerja

Beragam ekspresi yang ditunjukkan anak saat ibu berangkat bekerja. Menangis, diam, cemberut dan lainnya, seolah ingin menyampaikan pendapat bahwa mereka tidak ingin ditinggal dan ingin bersama-sama dengan sang ibu. Bagi sebagian besar dari ibu bekerja, kondisi tersebut dianggap sebagai sesuatu yang membuat mereka merasa bersalah. Meninggalkan anak menurut mereka adalah sebuah kesalahan karena seharusnya anak didampingi secara penuh oleh ibu.

Rasa bersalah hadir seolah semakin nyata, ketika ibu dihadapkan beberapa kondisi. Seperti kondisi anak sedang sakit dan ibu idak bisa lama menemani serta merawat secara penuh karena dibatasi waktu ijin dari kantor. Kemudian pola pengasuhan yang diberikan pengasuh berbeda dengan yang ibu harapkan. Pengasuh yang dimaksud adalah pihak yang telah diberikan kepercayaan untuk mengasuh selama ibu berada dikantor. Baik keluarga sendiri, tetangga, atau pengasuh yang diperoleh dari Yayasan khusus mengasuh anak.

Sebagai ungkapan maaf terhadap anak, sering kali ibu membelikan mainan atau sesuatu yang dianggap bisa membuat senang anak. Memanjakan anak dengan sesuatu yang ibu pikir dapat membuat anak dapat memaafkan keputusannya untuk bekerja diluar rumah. Beragam cara ibu lakukan untuk memupus rasa bersalahnya. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian, sampai kapan ibu akan merasa bersalah dengan kondisi yang dijalaninya. Mengapa ibu bekerja harus memiliki perasaan seperti itu, kemudian bagaimana seharusnya?

Disinilah pentingnya wanita yang memiliki peran sebagai ibu dan harus bekerja pada ranah publik, menambah pemahaman mengenai bagaimana mengelola hal tersebut. Pemahaman secara psikologis, agama, dan parenting adalah kombinasi yang sangat lengkap. Misalnya saja dari sisi agama, sebagai insan beragama, ikhlas dan pasrah merupakan kunci dalam menghadapi masalah yang ada. Untuk menghadirkan ikhlas dan pasrah agar tidak hanya menjadi sesuatu yang fatalistik, tentu memerlukan tehnik khusus yang dibantu secara psikologi. Dalam hal implementasi menjalankan peran ibu, dibutuhkan pemahaman mengenai parenting.

Semua dapat diperoleh melalui berbagai sumber, seperti membaca berbagai literatur yang sesuai. Selain itu bisa mengikuti seminar-seminar parenting, mengelola emosi (psikologi) dan parenting berdasarkan nilai agama yang diyakini. Ikut dalam komunitas parenting juga penting untuk mendapatkan informasi mengenai parenting. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang tepat akan apa yang perlu dilakukan bagi ibu bekerja. Orang tua yang melakukan banyak hal (too much to do), tidak hanya mengurus ranah domestik tetapi juga bekerja pada ranah publik.

Parenting termasuk pekerjaan yang sangat sibuk. Karena mencakup banyak hal seperti pola pengasuhan, pendidikan, membangun ikatan anak dengan orang tua, dan sebagainya. Kesibukan akan bertambah bagi pasangan suami istri yang bekerja, memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Dapat terbayang kesibukan yang dihadapi oleh keluarga yang kedua orang tuanya bekerja.

Tetapi tenang, semua dapat di-handle dengan baik. Dimana tugas-tugas parenting dapat berjalan dengan optimal sekalipun ibu dan ayah bekerja. Begitu pula dengan pekerjaan atau karir juga dapat berjalan dengan baik. Sehingga tidak perlu ada yang dikorbankan apalagi memiliki rasa bersalah bagi ibu bekerja.

Ibu bekerja tidak perlu memiliki rasa bersalah karena secara emosi hal tersebut hanya membangun energi negatif dan akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan serta hubungan yang tidak sehat dengan orang sekitar. Bersyukur dengan memikirkan bahwa ibu bekerja diberikan kesempatan untuk membantu pasangan dalam hal ekonomi. Secara pribadi ada kesempatan pengembangan diri dan masih banyak hal lain yang perlu disyukuri terkait kondisi yang dimiliki saat ini.

Dengan bersyukur ibu bekerja dapat melihat segala hal di sekitar menjadi suatu hal yang positif dan akan disikapi dengan positif juga. Rasa bersalah tentu tidak akan hadir dan mengganggu kehidupannya. Ada banyak ide parenting bagi ibu bekerja yang too much to do dengan too little time. Perspektif yang digunakan dalam menyelesaikan tantangan harian yang dihadapi. Cara yang dapat digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih berarti atau  fulfillment, bahagia, dan seimbang bagi para ibu yang sangat sibuk bahkan.

Tentu terlebih dahulu hilangkan rasa bersalah, karena akan sulit menjalankan beragam ide, perspektif dan cara yang sudah dipahami. Rasa bersalah akan mengajak ibu bekerja jalan di tempat karena akan hadir rasa untuk merenung kembali masa lalu, sangat menghambat produktivitas bukan?

Yuk, hapus rasa bersalah. Hapus energi negatif yang tidak penting, yang menghambat hal positif lain untuk hadir. Berikut beberapa hal yang dapat coba dilakukan oleh ibu bekerja untuk memupus rasa bersalah.

Nikmati yang ada saat ini

Jangan buang energy dengan memikirkan “seharusnya” atau “seandainya” yang dilakukan sebelumnya atau masa lalu. Hiduplah untuk saat ini, disini, bukan masa lalu. Nikmati yang ada saat ini adalah anugerah!

Sayangi dirimu Ibu

Melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk diri sendiri sangat diperlukan sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan terdapa diri. Menyayangi diri dapat memberikan dampak memberikan kasih saying juga untuk orang di sekitar. Buatlah list apa saja kegiatan yang disukai dan menyenangkan. Lakukan jangan hanya sekedar membuat daftar. Ibu bahagia, maka keluarga akan bahagia pula.

Buat prioritas

Tentukan yang menjadi prioritas sehingga yang dilakukan adalah hal yang benar-benar penting. Catatan perlu dibuat untuk dijadikan sebagai reminder. Beranikan diri untuk bilang tidak terhadap sesuatu diluar dari prioritas. Hal ini membuat ibu mendahulukan yang utama, begitu pula dengan setiap keputusan yang ibu ambil.

Bangun perspektif bersama pasangan

Perspektif bahwa ibu bukanlah orang yang dapat melakukan semua hal sendiri secara sempurna. Butuh peran pasangan dan anak dalam menyempurnakan hal tersebut. Jadi tidak perlu menjadi super mom jika tidak ingin gagal dan merasakan sakit baik hati maupun fisik. Pendelegasian tugas penting dilakukan, kepada pasangan, anak, pengasuh dan orang yang diberi kepercayaan untuk melakukan tugas tersebut. Tidak perlu menjadi pribadi yang harus menjadi terbaik untuk semua orang, apalagi merasa menjadi sempurna. Berpegang teguhlah pada perspektif dan standar kehidupan yang dimiliki yang dibangun bersama pasangan.

Have Fun!

Bersikaplah santai dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Jauhi ketegangan. Biasakan untuk lebih banyak tersenyum dan tertawa. Tersenyum dulu itu penting untuk menghadirkan hal yang menyenangkan dan membuat bagahia. Senyum di pagi hari, diyakini dapat membuat hari semakin menyenangkan. Jadi awali hari dengan senyuman, dan lakukan hal dengan senang. Rayakan apa yang sudah dilakukan dan diraih.

Let it go!

Berhenti untuk terus menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah dilakukan dan terjadi di masa lalu. Ikhlaskan dan lepaskan saja yang sudah terjadi. Tidak perlu melakukan penyesalan dan rasa bersalah.

Identifikasi masalah dengan tepat

Dengan identifikasi masalah dengan tepat, akan menghindari ibu untuk kembali merenungkan kenapa harus merasa bersalah.

Tetapkan tujuan sukses

Tetapkan tujuan dan langkah-langkah kesuksesan. Hal ini menghindari ibu untuk berkhayal sesuatu yang tidak penting. Tetapi justru akan mengalihkan pada hal besar dan mengarah pada tujuan yang dibuat.  Perlu mencoba untuk mengerjakan satu tugas saja sampai selesai, kemudian melakukan tugas selanjutnya. Kebiasaan seperti ini akan menjauhkan diri kita dari merasa “kewalahan” dan melupakan detail yang diperlukan untuk tugas tersebut.

Mari mencoba tips diatas, semoga bermanfaat ya.

 

Daftar Pustaka :

Andri Priyatna. Parenting untuk Orang Tua Sibuk. Jakarta : Elex Media Komputindo. 2010

Gobind Vashdev. Happiness Inside. Jakarta : Hikmah. 2010

Sumber gambar :

www.sihatbahagiaceria.blogspot.com

www.bestkartun.blogspot.com

3 Comments

  • Nur Faizah
    28/06/2020 at 18:44

    Keren kak

    Reply
  • Meta Maftuhah
    28/06/2020 at 19:07

    Iya, betul banget. Semua kembali ke pikiran sadar kita. Dulu pernah mengalami, khawatir gak jelas kalau anak kenapa-kenapa.

    Reply
  • Nurhilmiyah
    30/06/2020 at 20:54

    Nice share ini Mba Nisa, sebagai ibu bekerja saya juga kerap ngerasain yg kaya gini tp Insyaallah srg ngobrol ama anak2 trus membagikan perasaan kita jd mereka ngerti dan kita pun gak feeling guilty banget hehe.

    Ditunggu komen baliknya ya Mba… makasih

    Reply

Leave a Reply